5 Contoh Khutbah Idul Fitri 2024 Tema Persatuan dan Kebersamaan Umat Bangsa

Contoh teks khutbah Idul Fitri 2024 dengan tema memperkokoh persatuan dan kebersamaan pasca pemilu 2024. Hari Raya Idul Fitri 2024 ini akan dirayakan bersama, setelah pemerintah resmi menetapkan 1 Syawal 1445 H jatuh pada Rabu (10/4/2024). Penetapan Idul Fitri 2024 tersebut sama seperti yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, sebelumnya.

Dalam rangka momentum perayaan Idul Fitri 2024 ini, Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Niam Sholeh mengatan jika lebaran tahun ini dapat menjadi momentum rekonsiliasi nasional. Berkaitan hal tersebut, naskah khutbah Idul Fitri 2024 dalam artikel ini cocok menjadi referensi untuk dibacakan ketika khutbah salat Idul Fitri pada Rabu, 10 Maret 2024. Karena dalam khutbah Idul Fitri 2024 artikel ini berkaitan dengan momentum untuk memperkokoh rasa kebersamaan dan persaudaraan, yang kendor pasca Pemilu karena perbedaan pilihan politik.

Khotib dapat menyampaikan tentang cara menebarkan semangat memperkokoh persatuan dan kesatuan umat bangsa. Simak contoh khutbah Idul Fitri 2024 berikut ini, melansir dari Kemenag dan Suara Muhammadiyah . Contoh Teks Khutbah Jumat dengan Tema Pendidikan

Contoh Teks Khutbah Jumat dengan Tema Bulan Syawal Contoh Teks Khutbah Jumat dengan Tema Peristiwa di Bulan Syawal Contoh Kata Sambutan Acara Halal Bihalal Idul Fitri 2024 Bahasa Jawa, Singkat dan Mudah Dipahami

Contoh Pidato Saat Halal Bihalal Silaturahmi Idul Fitri 2024, Cocok Disampaikan saat Kumpul Keluarga Kumpulan Tema Halal Bihalal Idul Fitri 2024, Cocok untuk Acara Keluarga, Kampus hingga Kantor Contoh Teks Ikrar Halal Bihalal Idul Fitri 2024 Untuk Guru di Sekolah, Sopan dan Mudah Dipahami

Contoh Teks MC Halal Bihalal Keluarga Idul Fitri 2024 dalam Bahasa Sunda, Lengkap Susunan Acaranya Oleh: KH M. Quraish Shihab Dengan takbir dan tahmid, kita melepas Ramadan yang insya Allah telah menempa hati, mengasuh jiwa serta mengasah nalar kita. Dengan takbir dan tahmid, kita melepas bulan suci itu dengan hati harus penuh harap, dengan jiwa kuat penuh optimisme, betapa pun beratnya tantangan dan sulitnya situasi. Ini karena kita menyadari bahwa Allah Maha Besar. Allahu Akbar, Allahu Akbar! Semua kecil dan ringan selama kita bersama dengan Allah.

Kita bersama sebagai umat Islam dan sebagai bangsa, kendati mazhab, agama atau pandangan politik kita berbeda, karena kita semua ber Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita semua satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air dan kita semua telah sepakat ber Bhineka Tunggal Ika, dan menyadari bahwa Islam, bahkan agama agama tidak melarang kita berkelompok dan berbeda. Yang dilarangnya adalah berkelompok dan berselisih. Maksudnya: Janganlah menjadi serupa dengan orang orang yang berkelompok kelompok dan berselisih dalam tujuan setelah datang kepada mereka keterangan keterangan. Mereka itulah yang mendapatkan siksa yang pedih. Demikian QS. Ali ‘Imran [3]: 105. Saudara. Keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah untuk seluruh makhluk, termasuk manusia.

(QS. Al Maidah [5]: 48). Saudara. Kini kita beridul fitri. Kata fithri atau fithrah berarti asal kejadian, bawaan sejak lahir. Ia adalah naluri. Fitri juga berarti suci, karena kita dilahirkan dalam keadaan suci bebas dari dosa. Fithrah juga berarti agama karena keberagamaan mengantar manusia mempertahankan kesuciannya. " (QS. Ar Rum [30]: 30).

Dengan beridul fitri, kita harus sadar bahwa asal kejadian kita adalah tanah: ." (QS. As Sajadah [32]: 7) . (QS. Thaha [20]: 55).

Kesadaran bahwa asal kejadian manusia dari tanah, harus mampu mengantar manusia memahami jati dirinya. Tanah berbeda dengan api yang merupakan asal kejadian iblis. Sifat tanah stabil, tidak bergejolak seperti api. Tanah menumbuhkan, tidak membakar. Tanah dibutuhkan oleh manusia, binatang dan tumbuhan tapi api tidak dibutuhkan oleh binatang, tidak juga oleh tumbuhan. Jika demikian, manusia mestinya stabil dan konsisten, tidak bergejolak, serta selalu memberi manfaat dan menjadi andalan yang dibutuhkan oleh selainnya. (QS. An Nahl [16]: 15). Peredaran bumi pun mengelilingi matahari sedemikian konsisten! Kehidupan manusia di dunia ini pun terus beredar, berputar, sekali naik dan sekali turun, sekali senang di kali lain susah.

Saudara. Jika tidak tertancap dalam hati manusia pasak yang berfungsi seperti fungsinya gunung pada bumi, maka hidup manusia akan oleng, kacau berantakan. Pasak yang harus ditancapkan ke lubuk hati itu adalah keyakinan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Itulah salah satu sebab mengapa idul fitri disambut dengan takbir. (QS. Ar Rum [30]: 30). Selanjutnya karena manusia diciptakan Allah dari tanah, maka tidak heran jika nasionalisme, patriotisme, cinta tanah air, merupakan fithrah yakni naluri manusia. Tanah air adalah ibu pertiwi yang sangat mencintai kita sehingga mempersembahkan segala buat kita, kita pun secara naluriah mencintainya. Itulah fithrah naluri manusiawi karena itu, hubbu al wathan minal iman, cinta tanah air adalah manfestasi dan dampak keimanan. Tidak heran jika Allah menyandingkan iman dengan tanah air (QS Al Hasyr [59]: 9). Sebagaimana menyejajarkan agama dengan tanah air, Allah berfirman: Allah tidak melarang kamu berlaku adil (memberi sebagian hartamu) kepada siapapun walau bukan muslim selama mereka tidak memerangi kamu dalam agama atau mengusir kamu dari negeri kamu (QS. Al Mumtahanah [60]: 8). Demikian pembelaan agama dan pembelaan tanah air disejajarkan Allah.

Saudara. Yang mencintai sesuatu akan memeliharanya, menampakkan dan mendendangkan keindahannya serta menyempurnakan kekurangannya bahkan bersedia berkorban untuknya. Tanah air kita, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, harus dibangun dan dimakmurkan serta dipelihara persatuan dan kesatuannya. Persatuan dan kesatuan adalah anugerah Allah yang tidak ternilai. “Seandainya engkau, siapapun engkau, menafkahkan segala apa yang di bumi untuk mempertautkan hati anggota masyarakat, engkau tidak akan mampu, tetapi Allah yang mempertautkan hati mereka,” begitu Firman Nya dalam QS. al Anfal [8]: 63. Sebaliknya, perpecahan dan tercabik cabiknya masyarakat adalah bentuk siksa Allah. Itulah antara lain yang diuraikan Al Quran menyangkut masyarakat Saba’, negeri yang tadinya dilukiskan oleh Al Quran sebagai Baldatun Thayyibatum wa Rabbun Ghafur, negeri sejahtera yang dinaungi ampunan Illahi tapi mereka durhaka dengan menganiaya diri mereka, menganiaya negeri mereka.

." (QS. Saba’ [34]: 18). Saudara. Yang dikemukan ayat ayat di atas adalah sunatullah. Itu adalah hukum kemasyarakatan yang kepastiannya tidak berbeda dengan kepastian “hukum hukum alam”. Allah berfirman: “Sekali kali engkau – siapapun, kapan dan di mana pun engkau tidak akan mendapatkan bagi sunnatullah satu perubahan pun dan sekali kali engkau tidak akan mendapatkan bagi sunnatullah sedikit penyimpangan pun.”

Saudara. Itulah yang terjadi di Uni Soviet dan Yugoslavia dan yang prosesnya bisa jadi yang kita saksikan dewasa ini di sekian negara di Timur Tengah. Saudara saudara sekalian. Allah berpesan bahwa bila Hari Raya Fithrah tiba, maka hendaklah kita bertakbir. Kalimat Takbir merupakan satu prinsip lengkap menembus semua dimensi yang mengatur seluruh khazanah fundamental keimanan dan aktivitas manusia. Dia adalah pusat yang beredar, di sekelilingnya sejumlah orbit unisentris serupa dengan matahari yang beredar di sekelilingnya planet planet tata surya. Di sekeliling Tauhid itu beredar kesatuan kesatuan yang tidak boleh berpisah atau memisahkan diri dari Tauhid, sebagaimana halnya planet planet tata surya karena bila berpisah akan terjadi bencana kehancuran.

Kesatuan kesatuan tersebut antara lain: 1. Kesatuan seluruh makhluk karena semua makhluk kendati berbeda beda namun semua diciptakan dan di bawah kendali Allah. Itulah “Wahdat al Wujud/Kesatuan wujud” – dalam pengertiannya yang sahih. 2. Kesatuan kemanusiaan. Semua manusia berasal dari tanah, dari Adam, sehingga semua sama kemanusiaannya. Semua harus dihormati kemanusiaannya, baik masih hidup maupun telah wafat, walau mereka durhaka. Karena itu: Siapa yang membunuh seseorang tanpa alasan yang benar, maka dia bagaikan membunuh semua manusia dan siapa yang memberi kesempatan hidup bagi seseorang maka dia bagaikan telah menghidupkan semua manusia. (QS. al Maidah {5]: 32)

Memang jika ada manusia yang menyebarkan teror, mencegah tegaknya keadilan, menempuh jalan yang bukan jalan kedamaian, maka kemanusiaan harus mencegahnya, karena menurut QS. Al Hajj [22]: 40) Seandainya Allah tidak mengizinkan manusia mencegah yang lain melakukan penganiayaan niscaya akan diruntuhkan biara biara, gereja gereja, sinagog sinagog, dan masjid masjid, yang merupakan tempat tempat yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Tetapi Allah tidak menghendaki roboh robohnya tempat tempat peribadatan itu. Karena itu pula kemanusiaan harus bersifat adil dan beradab. 3. Di pusat Tauhid beredar juga kesatuan bangsa. Kendati mereka berbeda agama, dan suku, berbeda kepercayaan atau pandangan politik, mereka semua bersaudara, dan berkedudukan sama dari kebangsaan. Karena itu sejak zaman Nabi Muhammad Saw, beliau telah memperkenalkan istilah “Lahum Ma Lanaa Wa ‘Alaihim Maa ‘Alaina”. Mereka yang tidak seagama dengan kita mempunyai hak kewargaan sebagaimana hak kita kaum muslimin dan mereka juga mempunyai kewajiban kewargaan sebagaimana kewajiban kita. Dan karena itu pula –tegas pemimpin tertinggi Al Azhar Prof. Dr. Ahmad At Thayyib: “Dalam tinjauan kebangsaan dan kewargaan negara, tidak wajar ada istilah mayoritas dan minoritas karena semua telah sama dalam kewargaan negara dan lebur dalam kebangsaan yang sama."

Kesadaran tentang kesatuan dan persatuan itulah yang mengharuskan kita duduk bersama bermusyawarah demi kemaslahatan dan itulah makna “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawatan perwakilan”. Saudara. Kesadaran tentang kesamaan dan kebersamaan itu merupakan salah satu sebab mengapa dalam rangkaian Idul Fithri, setiap muslim berkewajiban menunaikan Zakat Fitrah yang merupakan simbol kepedulian sosial serta upaya kecil dalam menyebarkan keadilan sosial. Selain kesatuan kesatuan di atas, masih banyak yang lain, seperti: kesatuan suami isteri, yakni kendati mereka berbeda jenis kelamin namun mereka harus menyatu. Tidak ada lagi yang berkata “saya” tetapi “kita”, karena mereka sama sama hidup, sama sama cinta serta sama sama menuju tujuan yang sama.

Akhirnya, walau bukan yang terakhir, perlu juga disebut kesatuan jati diri manusia yang terdiri dari ruh dan jasad. Penyatuan jiwa dan raga, mengantar “binatang cerdas yang menyusui” ini menjadi manusia utuh sehingga tidak terjadi pemisahan antara keimanan dan pengamalan, tidak juga antara perasaan dan perilaku, perbuatan dengan moral, idealitas dengan realitas. Akan tetapi, masing masing merupakan bagian yang saling melengkapi. Jasad tidak mengalahkan ruh dan ruh pun tidak merintangi kebutuhan jasad. Kecenderungan individu memperkukuh keutuhan kolektif dan kesatuan kolektif mendukung kepentingan individu. Pandangan tidak hanya terpaku di bumi dan tidak juga hanya mengawang awang di angkasa. Demikian itulah manusia yang ber ‘idul fithri, yang kembali ke asal kejadiannya. Anda menemukan dia teguh dalam keyakinan. Teguh tetapi bijaksana, senantiasa bersih walau miskin, hemat dan sederhana walau kaya, murah hati dan murah tangan, tidak menghina dan tidak mengejek, tidak menyebar fitnah tidak menuntut yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain. Saudara. Kitab suci Al Qur’an menguraikan bahwa sebelum manusia ditugaskan ke bumi, Allah memerintahkannya transit terlebih dahulu di surga. Itu dimaksudkan agar Adam dan ibu kita Hawa memperoleh pelajaran berharga di sana. Di surga, hidup bersifat sejahtera. Di sana, menurut Al Qur’an Surah Thaha [20]: 118 119, tersedia sandang, papan dan pangan yang merupakan tiga kebutuhan pokok manusia.

Di sana juga tidak terdengar, jangankan ujaran kebencian, ucapan yang tidak bermanfaat pun tidak ada wujudnya. Yang ada hanya damai… damai dan damai. (QS. Al Waqiaah [56]: 25 26) Situasi demikian, dialami oleh manusia modern pertama itu, bukan saja agar jika mereka tiba di pentas bumi mereka rindu kepada surga sehingga berusaha kembali ke sana, tetapi juga agar berusaha mewujudkan bayang bayang surga itu dalam kehidupan di bumi ini, yakni hidup sejahtera, terpenuhi kebutuhan pokok setiap individu, dalam suasana damai, bebas dari rasa takut yang mencekam, bebas juga dari kesedihan yang berlarut.

Saudara! Di surga juga keduanya menghadapi tipu daya iblis dan mengalami kepahitan akibat memperturutkannya. Saudara! Sementara pakar berkata bahwa kata iblis terambil dari bahasa Yunani Kuno yakni Diabolos, yang berarti sosok yang memfitnah, yang memecah belah. Iblis memfitnah Tuhan dengan berkata bahwa Allah tidak melarang Adam dan pasangannya mencicipi buah terlarang, kecuali karena Allah enggan keduanya menjadi malaikat atau hidup kekal (QS. Al ’Araf [7]: 20). Iblis memfitnah, memecah belah, dan menanamkan prasangka buruk. Dengan beridul Fitri, kita hendaknya sadar tentang peranan Iblis dan pengikut pengikutnya dalam menyebar luaskan fitnah dan hoax serta menanamkan prilaku buruk serta untuk memecah belah persatuan dan kesatuan.

Saudara. Al Qur’an melukiskan bahwa mempercayai ujaran Iblis, mengakibatkan tanggalnya pakaian Adam dan Hawa. (QS. Al araf [7]: 27). Pakaian adalah hiasan, pakaian juga menandai identitas dan melindungi manusia dari sengatan panas dan dingin sambil menutupi bagian yang enggan diperlihatkan. Selama bulan puasa ini, kita menenun pakaian takwa dengan nilai nilai luhur. Saudara. Nilai yang telah disepakati oleh bangsa kita adalah nilai nilai yang bersumber dari agama dan budaya bangsa yang tersimpul dalam Pancasila. Itulah pakaian kita sebagai bangsa. Itulah yang membedakan kita dari bangsa bangsa lain. Itulah hiasan kita dan itu pula yang dengan menghayatinya kita dapat terlindungi atas bantuan Allah dari aneka sengatan panas dan dingin, dari aneka bahaya yang mengganggu eksistensi kita sebagai bangsa. Allah berpesan:" (QS. An Nahl [16]: 92).

Saudara. Yakinlah bahwa kita memiliki nilai nilai luhur yang dapat mengantarkan kita ke cita cita proklamasi, tetapi agaknya kita kurang mampu merekat nilai nilai itu dalam diri dan kehidupan bermasyarakat. Saudara. Nilai nilai inilah yang membentuk kepribadian anggota masyarakat; semakin matang dan dewasa masyarakat, semakin mantap pula pengejawantahan nilai nilai tersebut. Masyarakat yang sakit adalah yang mengabaikan nilai nilai tersebut. Saudara. Ada orang atau masyarakat yang sakit tapi tidak menyadari bahwa dia sakit. Sayyidina Ali pernah berucap melukiskan keadaan seseorang atau masyarakat:

“Penyakitmu disebabkan oleh ulahmu tapi engkau tidak lihat obatnya ada di tanganmu tapi engkau tak sadar.” Keadaan yang lebih parah adalah tahu dirinya sakit, obat pun telah dimilikinya, tapi obatnya dia buang jauh jauh. Semoga bukan kita yang demikian. Akhirnya, mari kita jadikan ‘Idul Fithri, sebagai momentum untuk membina dan memperkukuh ikatan kesatuan dan persatuan kita, menyatupadukan hubungan kasih sayang antara kita semua, sebangsa dan setanah air.

Marilah dengan hati terbuka, dengan dada yang lapang, dan dengan muka yang jernih, serta dengan tangan terulurkan, kita saling memaafkan, sambil mengibarkan bendera as Salam, bendera kedamaian di tanah air tercinta, bahkan di seluruh penjuru dunia. “Ya Allah, Engkaulah as Salam (kedamaian), dari Mu bersumber as Salam, dan kepada Mu pula kembalinya. Hidupkanlah kami, Ya Allah, di dunia ini dengan as Salam, dengan aman dan damai, dan masukkanlah kami kelak di negeri as Salam (surga) yang penuh kedamaian. Maha Suci Engkau, Maha Mulia Engkau, Ya Dzal Jalali wal Ikram. Oleh: Prof. Dr. KH Abd A’la (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya)

Hari Raya Idul Fitri merupakan hari di mana keagungan Allah SWT tampak di tengah tengah kita demikian terang benderang. Kemahabesaran dan keagungan Allah benar benar hadir selama bulan Ramadan yang baru kita lalui dan mencapai puncaknya pada Hari Raya Idul Fitri ini. Salah satu manifestasi keagungan Allah adalah terbukanya pintu ampunan yang selebar lebarnya selama bulan Ramadan bagi umat Islam yang mau mengambil kesempatan tersebut. Puncak kemahabesaran Allah kian transparan pada hari raya Idul Fitri ini melalui janji Allah kepada umat Islam untuk memosisikan umat Islam sebagai manusia yang baru lahir; sebagai manusia yang kembali kepada fitrah. Tentunya janji ini berlaku bagi mereka yang berhasil melaksanakan puasa sesuai perintah Allah dan berdampak konkret pada kecerdasan spiritual, emosional, dan sosial. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam an Nasai menjelaskan hal ini. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan puasa Ramadan (bagi umat Islam). (Sejalan dengan itu) aku sangat menganjurkan sebagai sunnah bagi kamu semua, umat Islam, untuk beribadah dengan intens di bulan itu. Siapa pun yang telah berpuasa dan melaksanakan ibadah berdasarkan keimanan yang kokoh, dan mengharap kerelaan Allah, maka ia akan lepas dari segala dosanya, laksana bayi saat ibunya melahirkan.” Hadis ini menunjukkan adanya kaitan erat makna Idul Fitri dengan fitrah (asal kejadian manusia yang bersih dan suci dari segala dosa). Setiap Muslim yang telah menyempurnakan ibadah puasanya secara formal substantif dan secara lahir batin, maka pada hari Idul Fitri ini ia hadir sebagai manusia yang kembali ke fitrah.

Kembali ke fitrah merupakan salah satu anugerah Allah yang sangat berharga. Salah satu indikasinya adalah menguatnya integritas kepribadian. Kita dapat mengembangkan budi pekerti baik dan perilaku luhur pada satu sisi, dan mengendalikan hawa nafsu, emosi negatif dan perilaku jelek pada sisi yang lain. Demikian pula, Idul Fitri seutuhnya merupakan hari kelulusan atau wisuda bagi umat Islam yang berhasil lulus ujian dengan mampu mengendalikan diri lahir batin dari hal hal yang diharamkan dan tidak mencerminkan moralitas luhur selama bulan Ramadan. Sebagai hari kembali ke fitrah dan hari wisuda, Idul Fitri perlu disyukuri dengan memperbanyak takbir, tahmid dan kalimat kalimat thayyibah. Dalam bingkai itu, semoga kita, umat Islam, khususnya seluruh jamaah solat Idul Fitri di Masjid Istiqlal ini termasuk orang yang kembali ke fitrah dan berhasil menjadi wisudawan wisudawati terbaik. Dengan demikian, kita bisa naik ke kelas yang lebih tinggi dalam ucapan sikap dan perilaku dalam sekolah kehidupan ini pada tingkatannya masing masing Namun terlepas apa pun capaian yang telah kita raih, kesungguhan upaya yang telah kita lakukan perlu disyukuri tidak hanya dengan pengakuan hati dan ungkapan lisan, tapi juga dengan tindakan yang implementatif dan transformatif. Kita wajib mewujudkan rasa syukur dan pengagungan itu selain melalui tahmid, takbir dan sejenisnya, juga yang tidak kalah penting melalui kegiatan nyata dengan mengaktualisasikan dan membumikan segala anugerah Allah ke dalam kehidupan sosial yang dapat memberikan kebaikan dan kemaslahatan bersama.

Mengenai hakikat syukur ini, Imam al Ghazali menjelaskan: (Hakikat bersyukur adalah menggunakan karunia yang diberikan Allah sesuai dengan tujuan penciptaannya). Berdasar pernyataan al Ghazali tersebut, selain dengan lisan, syukur juga harus diungkapkan dengan aksi gerakan nyata. Melalui syukur ini, kita menjadikan segala anugerah Allah sebagai modal untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan dan kemaslahatan bagi kita bersama dan kehidupan. Pada saat yang sama, dengan syukur ini kita memperkuat keberadaan kita sebagai khalifah Tuhan yang berkewajiban melestarikan dan memakmurkan kehidupan serta mengembangkannya ke arah yang lebih baik.

Dengan syukur transformatif, kita melabuhkan keberhasilan kita dengan mengelola segala dorongan, sikap dan perilaku menjadi kemaslahatan senyatanya dalam kehidupan individu sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, politik dan sebagainya. Kita mengungkapkan rasa syukur atas capaian yang diraih tidak hanya diorientasikan untuk diri kita masing masing, tapi juga ditransformasikan ke dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam ungkapan yang lain, upaya syukur dan pembumian keberhasilan itu perlu dikembangkan menjadi dasar untuk membangun dan mengembangkan peradaban yang dapat mencerahkan kehidupan dan menyejahterakan bangsa; dan pada gilirannya juga bagi umat manusia secara keseluruhan dan dunia global. Dengan syukur transformatif ini, kita niscaya membangun sistem kehidupan yang dapat menjadi landasan bagi masyarakat dan bangsa Indonesia secara keseluruhan untuk terus menuju kepada kehidupan yang lebih baik. Syukur transformatif harus dapat mengantarkan bangsa ini ke dalam kehidupan ideal tapi tidak utopis; suatu kehidupan yang sarat dengan keadilan, kerukunan, keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan. Pada saat yang sama, kesyukuran ini diharapkan tidak lagi menjadi kegiatan individual yang bergerak sendiri sendiri. Namun syukur ini harus menjadi kegiatan bersama yang dilakukan secara terarah, terprogram dan berkelanjutan dengan tujuan dan hasil yang jelas dan benar benar bermanfaat. Kesyukuran ini harus bermakna signifikan bagi masyarakat dan bangsa yang niscaya melahirkan keadaban dan peradaban luhur bangsa.

Oleh karena itu, Idul Fitri (yang niscaya kita syukuri karena melimpahnya anugerah Allah pada hari itu) perlu dijadikan momentum strategis untuk aktualisasi rasa syukur ke dalam program dan aksi nyata tersebut. Selain itu, kita jangan hanya menginginkan untuk meraih keberhasilan sesaat. Kita niscaya bertekad untuk berhasil secara berkelanjutan dan mampu meningkatkan kualitas keberhasilan itu dari waktu ke waktu. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini baik di tingkat individu, masyarakat, maupun bangsa. Syukur transformatif memerlukan pijakan yang kuat untuk melangkah. Kita memerlukan kesatuan dan persatuan bangsa yang kokoh. Dalam kondisi keterpecahbelahan, kita sulit atau bahkan tidak mungkin melakukan apa pun yang bermakna. Dalam suasana yang penuh dengan saling bermusuhan, kita tentu sulit menghasilkan karya besar untuk masyarakat dan bangsa, apalagi untuk kehidupan. Sebab keterpecahbelahan identik dengan kelemahan dan permusuhan identik dengan jurang kehancuran. Dalam perspektif Islam, persatuan merupakan ajaran fundamental yang harus menjadi pegangan umat Islam dalam menjalani kehidupan. Sebaliknya, berpecah belah merupakan hal yang harus dihindari kapan pun dan di mana pun. Dalam al Qur an surat Ali ‘Imran, ayat 103 Allah SWT berfirman:

Dalam tafsir al Thabari dijelaskan, arti tali Allah (حبل الله) dalam ayat tersebut memiliki beberapa penafsiran. Ada ulama yang menafsirkan sebagai agama Allah (dengan arti, umat Islam niscaya berpegang teguh kepada agama Allah). Ulama lain mengartikan berkelompok (artinya, umat Islam harus berpegang teguh dengan berkelompok/bersama). Ada juga yang mengartikan bahwa terma itu merujuk kepada al Qur’an (dengan maksud, umat Islam hendaknya berpegang teguh kepada al Qur’an). Terlepas dari perbedaan penafsiran terhadap terma tali Allah itu, semua penafsiran itu mengandung arti keniscayaan umat Islam untuk bersatu dan berpegang teguh dengan nilai nilai etik moralitas luhur dan sejenisnya. Subyek hukum perintah dalam al Qur’an ini adalah umat Islam. Hal ini bukan berarti orang orang di luar Islam tidak dikenakan keharusan menegakkan persatuan dan kesatuan, terutama dalam konteks sebagai bangsa. Piagam Madinah sebagai konstitusi Negara Kota Madinah yang disusun oleh Rasulullah SAW memperlihatkan dengan jelas tentang kewajiban warga negara Madinah untuk menegakkan kesatuan dan persatuan. Dalam salah satu pasal di Konstitusi Madinah disebutkan sebagai berikut:

(Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarga). Pasal tersebut menjelaskan bahwa umat Islam dan umat dari agama lain merupakan satu bangsa dalam negara Kota Madinah. Selanjutnya pada pasal lain dijelaskan: (Bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya dan bagi kaum muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (Yahudi dan Muslimin) harus saling tolong menolong (terutama) dalam menghadapi musuh warga Madinah….)

Dari Konstitusi Negara Kota Madinah tersebut kita memahami bahwa unsur bangsa yang beragam –baik dari sisi suku, agama, atau lainnya– tetap merupakan satu bangsa yang harus mengedepankan persatuan dan keharusan saling membantu satu dengan yang lainnya. Berdasarkan hal itu, tidak ada pilihan lain bagi kita umat Islam dan unsur unsur lain bangsa ini selain meneguhkan kesatuan dan persatuan. Di atas kesatuan ini, kita umat Islam (yang mutlak didukung umat lain) melakukan syukur transformatif dengan mengaktualisasikan dan mengkontekstualisasikan anugerah yang diberikan Allah ke dalam program dan amal perbuatan nyata. Semua itu diarahkan dan ditujukan dalam rangka membangun dan mengembangkan peradaban yang bermakna dan memiliki manfaat signifikan bagi bangsa dan Negara, bahkan dunia global secara umum. Sebagai contoh, kesempatan mudik silaturrahim tidak cukup sekadar bersilaturrahim kemudian selesai. Dari silaturrahim dan halal bihalal, kita perlu melakukan sesuatu yang bermakna bagi masyarakat dan bangsa, mulai dari pemberdayaan warga, terutama yang selama ini terpinggirkan hingga pengembangan desa. Demikian pula dengan kemampuan kita mengeluarkan zakat fitrah, misalnya, kita harus mengembangkannya sebagai program yang memastikan tiada lagi warga di mana pun, siapa pun dan kapan pun, khususnya di negeri ini, yang merasa kelaparan.

Semua itu niscaya diletakkan dalam bingkai nilai nilai etika moral luhur berupa keadilan, kejujuran, kedamaian dan sejenisnya. Dengan demikian awal dan akhir dari apa yang kita lakukan merepresentasikan keadaban yang memanusiakan manusia dan melestarikan kehidupan dengan segala keragamannya menuju peradaban yang mencerahkan. Di hari yang penuh karunia ini, kita niscaya menengadahkan tangan, memohon ke hadirat Ilahi agar kita, masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia ini selalu berada dalam anugerah Allah. Demikian pula, semoga bangsa dan Negara ini dilindungi dari segala musibah, bencana, permusuhan, dan perpecahan. Oleh: Amru Almu'tasim

Alhamdulillah dengan penuh hidayah Allah SWT, di pagi yang cerah ini kita dapat bersama sama melaksanakan shalat Idul Fitri 1445 H dengan penuh kekhusyukan, kebahagiaan, dan persaudaraan. Oleh karena itu marilah kita bersyukur atas nikmat Allah SWT atas hidayah dan inayah Nya sehingga kita ditakdirkan untuk hadir bersama sama di masjid yang dimuliakan Allah ini, karena masih banyak saudara saudara kita yang berhalangan, tengah berada di jalan atau terbaring sakit. Marilah bersama sama kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dzat yang maha penyayang yang tak pandang sayang, dzat yang maha pengasih yang tak pernah pilih kasih, dengan cara menjalankan segala perintah perintah Allah dan menjauhi larangan larangan Nya. Khatib juga mengajak, marilah di pagi yang cerah ini kita buka seluas luasnya pintu maaf yang telah lama tertutup, kita buka hati suci kita, pikiran jernih kita, kita singkirkan kotoran jiwa kita, yaitu rasa dendam, benci dan permusuhan di antara sesama saudara dan umat beragama. Mudah mudahan kita yang hadir ini senantiasa tercatat dan digolongkan sebagai orang orang yang mendapat ampunan Allah SWT, sebagaimana dalam hadits qudsi Nya yang berbunyi:

Artinya: “ '. Semalam suntuk kita kumandangkan takbir, tahmid dan tahlil tanpa henti, tanpa lelah. Semua itu merupakan simbol kita mencintai dan mengagungkan asma Allah dengan penuh penghayatan dan pengharapan akan hari di mana kita akan berjumpa dengan Penguasa Alam. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW: Artinya, ."

Rasulullah SAW bersabda: Artinya, " " Islam sesungguhnya telah mengajarkan umatnya agar senantiasa bertakbir. Saat adzan dikumandangkan, saat iqamah dilafadhkan, saat bayi dilahirkan, dan saat jenazah dikuburkan, kita bunyikan takbir. Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati kita sebagai wujud pengakuan atas kebesaran dan keagunggan Allah, karena selain Allah semua kecil. sedangkan tasbih dan tahmid adalah wujud menyucikan asma Allah dan segenap yang berhubungan dengan Nya.

Rasulullah SAW bersabda: Artinya, (HR. Imam Muslim). Terampuni dosa dosa di sini adalah حَقُّ الله (haqqu Allah) atau hubungan manusia dengan Allah sedangkan apabila terjadi kekhilafan antarsesama manusia, maka akan terampuni apabila mereka saling memaafkan, saling ridha meridhai. Oleh sebab itu mari kita buang sifat sombong kita, egois kita untuk senantiasa membuka pintu maaf dan memohon maaf jika khilaf. Dan seyogianya kita melakukan hal itu secara langsung ketika kita mumpun hidup di dunia.

Di dalam kitab Syarhul Hikam dijelaskan bahwa ahli waris tidak berhak untuk memberi maaf jika kesalahan dilakukan terhadap seseorang yang telah meninggal dunia, karena di akhirat nanti tidak ada perbuatan saling maaf memaafkan seperti sekarang ini di dunia kita lakukan. Lantas, bagaimana cara agar dapat menebus dosa terhadap si mayit. Yang bisa kita lakukan adalah memperbanyak amal ibadah, karena di akhirat nanti mereka yang pernah kita aniaya akan menuntut dan meminta keadilan di hadapan Allah, sehingga amal ibadah kita akan diberikan kepada mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW di dalam kitab Riyadus Shalihin, Abu Hurairah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Artinya, (HR. Muslim)

Nuansa hari raya seperti sekarang ini kita pasti membayangkan saat saat begitu indahnya kebersamaan, berkumpul dengan sanak saudara, kita cium tangan kedua orang tua kita dengan rasa haru, kita meminta maaf atas salah dan khilaf kita. Begitulah tuntunan baginda Rasulullah SAW agar kita selalu berbakti kepada orang tua, menghormati mereka dan mengingat jerih payah mereka. Demikian tinggi derajat kedua orang tua kita sehingga berbuat baik terhadap orang tua adalah ibadah yang sangat dicintai Allah SWT. Suatu ketika sahabat Abdullah RA bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amal apakah yang dicintai Allah; beliau bersabda: Artinya, "

Kemudian ada hadits yang kedua yang artinya, “Diceritakan dari Sahabat Abdullah bin Amr, ada seorang laki laki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, ‘Saya ingin berjihad ya Rasulullah.’ Nabi menjawab, ‘Apakah ibu bapakmu masih hidup? Laki laki tersebut menjawab, ‘Masih.’ Nabi bersabda, ‘Berjuanglah menjaga kedua orang tuamu. Makna Idul Fitri selanjutnya adalah kita wajib menjaga persatuan dan kesatuan. Diawali dengan saling memaafkan, bersedia berkunjung dan bersilaturahim mempererat dan menyambung kembali orang orang yang terputus dengan kita sebagaimana hadits shahih Imam Bukhari Muslim beliau bersabda: Artinya,​​​​​​​ (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhirnya semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang orang pemaaf, orang orang yang senang bersilaturahim, pembela agama Allah dan berbakti terhadap orang tua kita, dan semoga kita dipertemukan Allah di akhirat kelak dalam keadaan suci, bahagia bersama keluarga kita memasuki surga Nya Allah SWT. Oleh: Dr. Drs. Immawan Wahyudi, MH, Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD) .” (QS. Al Isra' 17: Ayat 70)

Kaum muslimin rahimakumullah, di pagi yang mulia ini, marilah senantiasa kita tekadkan untuk perbaharui syahadah kita, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Saw adalah Nabi dan Utusan Allah, serta penutup dari para Nabi dan Rasul, yang telah membawa cahaya Islam yang membebaskan manusia dari alam kegelapan menuju alam penuh cahaya keimanan. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., beserta keluarganya, dan para sahabatnya serta para pengikut petunjuk dan sunnahnya. Amien. Seiring berlalunya Syahrul Mubarok, kita memasuki bulan syawwal yang semoga membawa spirit dan inspirasi peningkatan dalam segala aspek kehidupan. Namun, kiranya bijak jika kita mau mawas diri, dan bertanya apakah kiranya yang dapat kita teruskan sebagai amal mulia sebagaimana telah kita laksanakan dalam bulan yang penuh kemuliaan. Ada lima amalan untuk memelihara kesucian yang semestinya menjadi buah dari shiyam Ramadhan agar senantiasa menyertai kehidupan kita di hari hari mendatang. Pertama, kemampuan kita dalam menahan diri dari segala pikiran, ucapan dan tindakan yang dilarang oleh Allah Swt dan oleh Nabi Muhammad Saw., sebagaimana kita telah mampu menahan diri dari rasa dahaga, rasa lapar, berkata buruk dan gejolak nafsu syahwat. Kedua, kemampuan kita memaksimalkan dalam memanfaatan waktu untuk terus memperbanyak amal shalih. Ketiga, kemampuan kita memperbesar semangat peduli pada kepentingan dan rasa hormat pada harkat dan kemanusiaan. Keempat, kesediaan kita untuk terus membantu dan menggembirakan saudara saudara kita dari kenyataan akan kekurangan harta berupa pangan khususnya. Kelima, kemampuan kita dalam upaya terus menerus muhasabah dan mendidik diri agar tidak merasa diri sebagai orang yang telah sempurna yang mendorong perilaku sombong dan sebaliknya menjadi orang yang cenderung tawadlu’, senang dalam kesederhanaan dan menjaga keseimbangan dalam berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat lillaahi ta’ala limardhatillah.

‘Ied al Fithri perlu kita fahami dalam pemaknaan yang lebih luas. Kembali kepada fithrah, diantara dapat kita fahami dalam 7 (tujuh) makna. Pertama, fithrah manusia adalah makhluq berTuhan. Kedua, manusia mahluq beragama dan meyakini agama yang dianutnya. Ketiga, fithrah manusia adalah kemuliaan. Keempat fithrah manusia menjadi khalifatan fil ardl (pengganti kehadiran Allah di muka bumi). Kelima, fithrah manusia mengemban tugas memakmurkan bumi untuk kepentingan semua manusia. Keenam fithrah manusia adalah prokreasi (mengembangkan anak keturunan). Ketujuh fithrah manusia membawa mission memperjuangkan kebenaran dan kebaikan dan melawan kedzaliman dan angkara murka. Dari tujuh pemkanaan tentang kesucian manusia, khathib memandang perlu untuk kita focus dalam 3 (tiga) hal yakni : dalam hal makhluq berTuhan dan beragama, makhluq yang mengemban tugas istikhlaf dan terakhir makhluq yang mengemban tugas kewajiban isti’mar. Pertama, fithrah bermakna untuk terus menjaga diri sebagai makhluq mulia ciptaan sebagaimana difirmankan Allah wt dalam Sura tar Ruum : 30 ;

," Kedua, Istikhlaf. Kata "istikhlaf" dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar. Maknanya adalah: menjadikan khalifah (pengganti), yang menggantikan dan menjalankan peran yang diamanatkan dalam kerangka istikhlaf itu. Allah Swt memberitahukan kepada malaikat malaikat Nya bahwa Dia akan menjadikan khalifah Allah di muka bumi. Yang bertugas untuk mengemban amanat ilmu,terus berusaha, dan menanggung beban serta tanggung jawab membangun bumi itu. Allah SWT berfirman:

"(QS. Al Baqarah 2: Ayat 30) Ketiga, Isti’mar. Kata isti'mara pada ayat di atas terdiri dari huruf sin dan ta' yang dapat berarti meminta seperti dalam kata istighfara, yang berarti meminta maghfirah (ampunan). Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: ."(QS. Hud 11: Ayat 61)

Dalam ketugasan suci manusia di muka bumi dengan tujuan memakmurkan itu, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: " (QS. Al Baqarah 2: Ayat 29) Hak fithrah manusia sebagai khalifah di muka bumi dengan tujuan memakmurkan bumi untuk semua manusai semakin hari semakain jauh dari harapan. Dengan sangat jelas berita berita tentang pengerukan kekayaan alam dan perusakan alam semakin hari semakin dahsyat dan sempuran kejahatannya. Berita korupsi di dunia pertambangan tidak ada lagi yang nilai nominalnya puluhan bahkan ratusan miliar. Sebab semuanya sudah dalam bilangan puluhan dan ratusan triliun rupiah. Korupsi tambang timah senilai dua ratu tujuh puluh satu triliuan rupah adalah berita yang amat sangat menyakitkan. Sangat menyakitkan karena di tengah kemiskinan yang kian hari kian besar jumlahnya, di tambah semkin sulitnya mencari lapangan pekerjaan, kondisi pertanian yang tidak pernah memberikan keuntungan dan berbagai harga bahan pokok dan kebutuhan pokok lainnya yang semakin mahal, tetapi korupsi 271 trilun rupiah sepertinya kita terima dengan menyerah pasrah tanpa daya. Seakan itu hal yang wajar belaka. Bahkan keluarga yang terlibat korupsi super jahat itu tatkala diberitakan sikapnya sungguh sangat menghina. Dia ama sekali tidak merasa bersalah.

Sejalan dengan pesan ketakwaan kepada Alah Swt dan spirit kembali kepada kesucian seharusnya kita tidak memilik tempat untuk berdiam diri. Bumi ini diciptakan Allah untuk semua manuisa dan ditugaskan kepada manusia untuk memakmurkannya. Lalu, atas ketidak tegasan pemberantasan korupsi maka kian hari bumi kita kian terasa milik beberapa orang manusia saja –bahkan diantara manusia itu adalah orang orang yang tidak memiliki perasaan dan sikap sebagai warga bangsa NKRI. Allahumma dinhum kamaa yadinuun: yaa Allah hukumlah mereka dengan hukum Mu yang adil. Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar. Laa ilaaha illa Allah. Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahi al hamd. Mengakhiri khutbah di pagi yang mulia ini khatib menyampaikan firman Allah: dalam surat at Taubah ayat 20 – 21, Allah Swt berfirman : Artinya:

Jama’ah Ied rahimakumullah, marilah kita bermunajah kepada Allah. Dengan hati yang khusyu’ semoga kita diberi kehidupan yang lebih baik dalam menyelenggarakan kehidupan berkeluarga, berbangsa dan bernegara, dengan melaksanakan tugas individual kita dan tugaas sosial kita dengan mendasarkan kepada Lillaahi ta’ala limardlotillah. Marilah kita bermunajah kepada Allah dengan khusyu’, percaya bahwa Tuhan itu ada, dan Tuhan itu satu yakni Allah semata, dan hanya Allah sajalah yang dapat memenuhi segala permohonan kita dan yang berkuasa untuk mengembalikan kehidupan normal manusia sebagaimana mestinya. Oleh: dr H Agus Taufiqurrohman, MKes., SpS Hari ini kaum muslimin di segenap penjuru bumi menunaikan Idul Fitri. Dengan mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid serta shalat idul fitri. Dalam suasana bahagia ini, marilah kita tingkatkan rasa syukur kepada Allah. Salah satu bentuk perwujudan syukur adalah dengan menggunakan seluruh anugerah Allah untuk bekal amal saleh, untuk bekel beribadah. Sehingga semakin bányák nikmat yang kita terima mąką harus menjadi semakan taat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Yang telah memberikan suri tauladan utama untuk selalu kita tiru agar kita bisa menjadi muslim yang baik dan benar, menjadi manusia yang selamat dunia akhirat. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk mengikuti ajaran Rasulullah. Pesan pertama, adalah untuk bertakwa di manapun berada. Setelah sebulan menjalankan ibadah Ramadhan, tentu Kita semua berharap agar Allah menerima seluruh ibadah kita dań dimasukkan kita kedalam golongan hamba Allah yang bertaqwa. Yaitu golongan sebaik baik umat sebagaimana di terangkan dalam firman Allah; (QS Al Hujurot: 13)

Begitu indah ibadah ramadhan. Kita serasa akrab dengan amal saleh, jauh dari dosa. Kita tersadar setelah tadinya lalai, bangun setelah tadinya terlelap, dan seakan kita hadir setelah tadinya menghilang. Shalat malam kita, shadaqah kita, tadarus Al Qur’an kita, semangat kita memakmurkan masjid serta upaya upaya kita mengasihi sesama. Ramadhan benar benar kita jadikan sebagai bulan menuju takwa. Ketika Ramadhan telah usai, maka hendaknya kita senantiasa teguh dan istiqamah di dalam kebaikan dan ketakwaan, dimanapun dan kapanpun. Jangan sampai menimpa kita, perumpamaan orang yang menata bata demi bata hingga berwujud bangunan yang indah dan megah, namun tiba tiba dia sendiri yang merobohkannya. Atau laksana orang yang mengurai benang yang telah dipintalnya. Sebagaimana Allah firmankan; (QS An Nahl : 92)

Sebagai contoh sederhana, Puasa Ramadhan melatih kita untuk senantiasa berperilaku jujur. Maka orang yang berpuasa dengan benar tidak mungkin akan menjadi pendusta, pencuri ataupun koruptor. Saat ini rendahnya kejujuran menjadi keprihatinan kita semua. Bahkan diantara krisis moral yang melanda bangsa kita salah Satunya adalah hilangnya kejujuran pada sebagaian Anak bangsa. Ketika orang yang kehilangan kejujuran itu menjadi pemimpin tentu ini akan sangat membahayakan bangsa yang kita cintai.Mari kita simak sabda Nabi Muhammad saw tentang kejujuran: (HR. Muslim) Nasihat kedua, adalah agar kita mengiringi berbuatan salah dengan amal saleh, dengan kebaikan. Sebagaimana kita tahu, manusia memiliki potensi salah dan lupa. Tetapi Apabila terlanjur berbuat salah, maka terus bertaubat. Sebagai wujud pertaubatan yang sesungguhnya adalah tidak mengulangi perbuatan salah itu dan sisa hidupnya diisi dengan kebaikan. Sebagai firman Allah ;

Artinya: (QS Ali Imran: 135 ). Pesan yang ketiga, adalah senantiasa berakhlak yang mulia dalam menjalani kehidupan di tengah tengah masyarakat. Dalam ajaran Islam keimanan dan ketakwaan haruslah membuahkan akhlak yang mulia. Dalam sebuah riwayat dikisahkan ketika sahabat bertanya kepada baginda nabi tentang siapakah mukmin yang paling baik; Diriwayatkan pula dari Ata, dari Ibnu Umar, bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah Saw., "Wahai Rasulullah, manakah orang mukmin yang paling utama?" Rasulullah Saw. menjawab: Orang yang paling baik akhlaknya dari mereka.”

Di dalam hadits lain yang Rasulullaah bersabda (HR. Tirmidzi). Lulusan Madrasah Ramadhan adalah pribadi bertakwa dengan karekter yang mulia, dihiasai dengan kemuliaan akhlak. Orang bertakwa akan selalu berusaha berprilaku benar, berbuat jujur, adil, terpecaya, dan melakukan segala kebaikan dan kearifan untuk dirinya, keluarga, masyarakat, dan umat manusia keseluruhan. Bersamaan dengan itu ia akan senantiasa menjauhi hal hal yang salah, buruk, dan tidak pantas dalam kehidupannya. Bagi kita yang menjalanai puasa dengan benar, maka harus menjadikan puasanya sebagai kekuatan ruhani untuk membentuk perilaku baik dan terjauh dari perangai buruk buah dari ketakwaan.

Dalam suasana kehidupan yang dilanda krisis moral maka sangat penting dan menentukanya ajaran tentang pencerahan akhlak mulia ini, dalam perkataan, sikap, dan perbutan utama. Islam dengan tegas mengajarkan nilai nilai amanah, adil, ihsan, kasih sayang, dan akhlak mulia lainnya. Perlu untuk kita sadarkan kembali dalam kehidupan yang seringkali paradoks. Dalam kenyataan agama tidak sepenuhnya menunjukkan konsistensi, sebaliknya terjadi hal hal yang bertentangan antara nilai ajaran dengan perilaku pemeluknya. Islam mengajarkan adil, ihsan, dan kasih sayang, namun para pemeluknya tidak jarang berbuat dhalim, keburukan, dan permusuhan. Islam mengajarkan kasih sayang, ta’awun, dan ukhuwah, namun pemeluknya berbuat permusuhan dengan sesama insan ciptaan Allah, bahkan dengan sesama muslim. Begitu pula ada orang Islam rajin shalat, puasa, dan ibadah ibadah lainnya secara intensif tetapi sikap dan tindakannya diwarnai amarah, kasar, buruk kata, kebencian, dan permusuhan. Islam masih sebatas ilmu dan ajaran verbal tetapi kurang dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Paradoks beragama seperti itulah yang termasuk beragama yang tidak mencerahkan. Di era kehidupan yang terbuka seperti sekarang ini, yang salah satunya ditandai peran media sosil secara masif, maka iman dan akhlak mulia benteng kita. Media sosial selain bermanfaat sebagai media interaksi yang cepat dan mudah, pada saat yang sama menjadikan penggunanya seolah bebas komentar apa saja. Sering kita temui ujaran perseteruan, kebencian, permusuhan, saling hujat, dan hoaks menjadi hal biasa di media daring tersebut. Tampa dilandasi akhlaq mulai, Medsos bisa mengakibatkan hubungan sosial jadi lebih keras sehingga hilang keadaban, hilang pula rasa damai dan ketenteraman.

Dalam kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan pun mulai terasa adanya peluruhan nilai nilai utama ini. Politik uang, permusuhan, kebencian, ghibah (menggunjing), tajassus (mencari cari kesalahan orang lain), provokasi, dan menghalalkan segala cara seakan legal dalam kehidupan politik di tubuh bangsa ini. Oleh karena itu sangat diperlukan pencerahan akal dan budi, agar kita semua bisa mewujudkan karaker utama sebagai aktualisasi taqwa buah dari puasa Ramadhan. Idul fitri harus kita jadikan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali nilai nilai utama kehidupan, nilai nilai akhlak mulia. Menghidupkan kembali kasih sayang, saling menghormati sesama dan menjaga persatuan. Dengan senantiasa menerapkan akhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan berbangsa maka sesungguhnya kita telah menampilkan cara berislam yang mencerahkan dan memajukan. Bahwa akhlak mulia adalah citra diri setiap muslim, karena sesungguhnya akhlaq mulia tidak bisa dipisahkan dengan keimanan dan ketaqwaan. Ketika setiap Muslim di negri ini – sebagai penduduk terbanyak telah menerapkan karakter utama sebagi perwujudan iman dan taqwa, niscaya Allah akan meberikan anugerahnya kepada bangsa kita. Sebagaimana termaktub dalam Al Quran; ” " (QS Al a’rof : 96 )

Oleh karena itu, untuk menjadi sebuah bangsa yang maju tentunya tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik semata. Tetapi harus diikuti dengan membangunan karakter utama. Sebagaiman para pendiri bangsa ini selalu mengingatkan agar selalu memperhatiak keduanya. Bangunlah jiwanya –Bangunlah badanya. Bangsa ini telah dikenal sebagai bangsa yang relegius. Tentunya ini harus kita jaga, karena mulai ada yang ingin membawa agar agama dijauhkan dari proses menata bangsa, ditarik tarik kearah sekuler. Menjaga agar tetap menjadi negara yang religios adalah pengamalan dari Pancasila. Tentunya relegiutas yang kita inginkan adalah relgiusitas yang mencerahkan dan memajukan. Salah satunya adalah dengan mewujudkan akhlaqul karimah karakter utama dalam kehidupan. Akhirnya marilah kita memohon kepada Alllah semoga kira senantiasa diberi hidayah, sehingga didalam menghadapi hidup yang semakin sulit ini kita tetap menjalani dengan benar. Kita berdoa Semoga Allah menerima suluruh amal kita dan mengampuni dosa dosa kita. Kita berdoa agar saudara saudara kita di Palestina dan berbagai belahan dunia yang kondisinya tidak menyenangkan, diberi keringanan dan pertolongon Allah. Kira berdoa agar saudara saudara kita yang sedang sakit atau mendapatkan cobaan berat lain diberi kesabaran dan ketabahan serta segera dibebaskan dari masalahnhya. Kita berdoa agar para pemimpin bangsa dan seluruh warga bangsa diberi petunjuk sehingga selalu menjaga tanah air dan bangsa dengan nilai nilai utama, menjadi bangsa yang bermartabat, berkeadilan dan berkemakmuran. Artikel ini merupakan bagian dari

KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *